APLIKASI
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENANGKAPAN
IKAN CAKALANG
Oleh:
SURIA
M SINAGA
110302025
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2013
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Sistem Informasi Sumberdaya
Perairan ini. Adapun judul dari makalah ini
adalah, “Aplikasi Sistem
Informasi Geografis Dalam Penangkapan Ikan Cakalang”. Makalah ini dibuat agar
mahasiswa/i manajemen sumberdaya perairan mampu mengetahui wilayah distribusi spesies
ikan yang masih hidup dengan menggunakan sistem informasi geografis.
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen
mata kuliah Sistem Informasi Sumberdaya Perairan yaitu bapak Rusdi Leidonald,
SP, M. Sc. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan teman-teman mahasiswa/i yang
telah banyak membantu penulis baik secara material maupun non-material dalam
penyelesaian makalah ini.
Laporan
ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran
dan kritik dari pembaca demi perbaikan laporan berikutnya. Semoga laporan ini
bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih.
Medan, April 2013
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR
ISI......................................................................................................... ii
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.....................................................................................1
1.2. Tujuan..................................................................................................2
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem
Informasi Geografis................................................................... 3
2.2 Penyebaran Ikan Cakalang................................................................... 4
2.3 Aplikasi SIG Dalam Perikanan............................................................. 5
2.3.1 SIG Ikan Cakalang
Di Pelabuhan Ratu................................... 7
2.3.2 SIG Ikan Cakalang
Di Teluk Tomini....................................... 8
V KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan..........................................................................................9
4.2. Saran....................................................................................................9
DAFTAR
PUSTAKA
PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang
Dalam operasi penangkapan ikan
Cakalang, Salah satu kendala dalam berburu Cakalang adalah lemahnya informasi fishing
ground baik secara spasial maupun temporal. Kondisi iklim global yang
berubah-ubah semakin menyulitkan dalam menentukan fishing ground ikan
Cakalang, sehingga perburuan Cakalang menjadi kurang efektif, boros waktu dan
bahan bakar namun hasilnya kurang optimal. Kegiatan penangkapan ikan akan
menjadi lebih efisien dan efektif apabila daerah penangkapan ikan dapat diduga
terlebih dahulu, sebelum armada penangkapan ikan berangkat dari pangkalan
(Fausan, 2011).
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2009 tentang (Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 2004) Perikanan pasal 46 ayat 1 menyatakan bahwa, pemerintah dan
pemerintah daerah menyusun dan mengembangkan sistem informasi dan data
statistik perikanan serta menyelenggarakan pengumpulan, pengolahan, analisis,
penyimpanan, penyajian, dan penyebaran data potensi, pemutakhiran data
perikanan, sarana dan prasarana, produksi, penanganan, pengolahan dan pemasaran
ikan, serta data sosial ekonomi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan
sumberdaya ikan dan pengembangan sistem bisnis perikanan. Pasal 46 ayat 2,
pemerintah dan pemerintah daerah mengadakan pusat data dan informasi perikanan
untuk menyelenggarakan sistem informasi dan data statistik perikanan (Handoyo,
2011).
Sistem Informasi Geografis adalah
alat dengan system komputer yang digunakan untuk memetakan kondisi dan
peristiwa yang terjadi dimuka bumi. Tekonologi SIG ini dapat mengintegrasikan
sistem operasi database seperti query dan analysis statistic dengan berbagai
keuntungan analysis geografis yang ditawarkan dalam bentuk peta. Dengan
kemampuan pada system informasi pemetaan (informasi spasial) yang membedakannya
dengan system informasi lain seperti database, maka SIG banyak digunakan oleh
masyarakat, pengusaha dan instalasi untuk menjelaskan berbagai peristiwa,
memprediksi hasil dan perancanaan strategis (Zainuddin, 2008).
1.2 Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah :
· Mengidentifikasi
hubungan antara hasil tangkapan ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan pemanfaatn informasi
geografis di Perairan Teluk Tomini Provinsi Gorontalo
· Memetakan
daerah potensial penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan
memanfaatkan Sistem Informasi Geografis di perairan Pelabuhan Ratu
· Mahasiswa/i
mampu mengetahui pemanfaatan sistem informasi geografis dalam wilayah perikanan
dan kelautan.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Informasi Geografis
Berbagai macam aplikasi SIG telah
berkembang cepat tahun 1980-an, mengakibatkan timbulnya perkembangan mengenai defenisi
SIG yang berbeda. Nurwadjeji (1996) menyatakan bahwa informasi yang dikelola
SIG diturunkan dari data spasial (data yang mendeskripsikan lokasi dan bentuk
tampilan geografis serta hubungan spasial antar tampilan) yang bersumber dari
peta analog, interpretasi data citra penginderaan jauh seperti foto udara,
radar dan lain-lain (Nuraeni, 2000).
Menurut Prahasta
(2004), SIG merupakan suatu system informasi spasial berbasis komputer yang
mempunyai fungsi pokok untuk menyimpan, memanipulasi, dan menyajikan semua
bentuk informasi spasial. SIG juga merupakan alat bantu manajemen informasi
yang terjadi dimuka bumi dan bereferensi keruangan (spasial). Sistem Informasi
Geografi bukan sekedar system computer untuk pembuatan peta, melainkan juga
merupakan juga alat analisis. Keuntungan alat analisis adalah memeberikan
kemungkinan untuk mengidentifikasi hubungan spasial diantara feature data
geografis dalam bentuk peta (Fausan, 2011).
Menurut Jogiyanto (1999)
mengatakan bahwa sistem informasi disebut sebagai istilah blok bangunan (building
block), antara lain blok masukan (input block), blok model (model
block), blok basis data (database block), blok teknologi (technology
block) dan blok kendali (control block). Keenam blok tersebut saling
berinteraksi satu dengan yang lainnya membentuk satu kesatuan untuk mencapai
sasarannya (Handoyo, 2011).
Sistem
Informasi Geospasial atau juga dikenal sebagai Sistem Informasi Geografis (SIG)
mulai dikenal pada awal tahun 1980-an. SIG adalah suatu sistem untuk memperoleh,
menyimpan, menganalisa dan mengelola data spasial beserta data atribut terkait
yang secara keruangan direferensikan pada bumi. Dangermond1(1992)
mendefinisikan SIG sebagai kumpulan yang terorganisir dari
perangkat
keras komputer, perangkat lunak, data geografi dan personil yang didisain untuk
memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan
semua bentuk informasi yang bereferensi geografi. Sedangkan menurut Aronoff2,
(1989) SIG adalah serangkaian prosedur baik dengan komputer maupun manual yang
digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi data bereferensi geografis atau data
geospasial (Yuniar et al, 2008).
2.2 Penyebaran Ikan Cakalang
Ikan
cakalang termasuk golongan sumberdaya pelagis besar yaitu ikan oseanik yang
beruaya sangat jauh. Taksonomi ikan cakalang menurut Saanin (1981) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Vertebrae
Kelas : Pisces
Ordo : Percomorphy
Famili : Scombridae
Genus : Katsuwonus
Species : Katsuwonus pelamiss
Gambar 1. Ikan Cakalang
(Nuraeni, 2000).
Menurut Uktolseja et al (1989),
penyebaran Cakalang di perairan Indonesia meliputi samudra Hindia (perairan
barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara), Perairan Indonesia bagian
timur (Laut Sulawesi, Maluku, Arafuru, Banda, Flores dan Selat Makassar) dan
samudra Fasifik (perairan utara Irian Jaya) dengan daerah penyebaran terbesar
disekitar daerah khatulistiwa Selain itu
pula, distribusi ikan Cakalang ditentukan oleh berbagai faktor, baik faktor
internal maupun faktor eksternal dari lingkungan. Faktor internal meliputi
jenis (genetis), umur dan ukuran, serta tingkah laku (behavior). Perbedaan
genetis ini menyebakan perbedaan dalam morfologi, respon fisiologis dan daya
adaptasi terhadap lingkungan. Faktor eksternal merupakan factor lingkungan,
diantaranya adalah parameter oseonografi sperti suhu, salinitas, kedalaman,
arus, dan kandungan klorofil-A sebagai produktifitas primer (Fausan, 2011).
Ikan
pelagis merupakan ikan yang hidup pada lapisan permukaan perairan sampai tengah
(mid layer). Ikan pelagis umumnya hidup secara bergerombol baik dengan
kelompoknya maupun jenis ikan lain. Ikan pelagis bersifat fototaxis positif dan
tertarik pada benda-benda terapung. Ikan pelagis adalah kelompok ikan yang
sebagian besar hidupnya berada pada lapisan permukaan hingga kolom air (mid
layer). Ikan pelagis ini memiliki ciri khas, yaitu dalam beraktivitas
umumnya membentuk gerombolan (schooling) dan melakukan migrasi untuk
berbagai kebutuhan hidupnya (Handoyo, 2011).
2.3
Aplikasi SIG Dalam Perikanan
Aplikasi
GIS dalam bidang perikanan khususnya pada sistim informasi perikanan telah banyak dilakukan di banyak negara
termasuk di Indonesia. Aplikasi GIS
dalam sistim informasi perikanan
khususnya pada pemetaan kelayakan lokasi budidaya (kelayakan lokasi
budidaya tambak, kelayakan lokasi KJA, kelayakan lokasi budidaya rumput laut
dan sebagainya), peta daerah potensil penangkapan ikan, peta tataruang wilayah
pesisir. pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang merupakan suatu sistem
berbasis komputer yang dapat digunakan
sebagai alat dalam kegiatan eksplorasi daerah potensial penangkapan ikan
secara geografis dan menunjang pengelolaan sumberdaya yang berwawasan
lingkungan; serta pendekatan/pemanfaatan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) yang merupakan model
spasial yang bermanfaat untuk menghasilkan berbagai informasi turunan melalui
proses interpretasi (Malawa, 2011).
Menurut
Zainuddin (2006), Salah satu alternative yang menawarkan solusi terbaik adalah
pengkombinasian kemampuan SIG dan pengindraan jauh. Dengan teknologi inderaja
faktor-faktor lingkungan laut yang mempengaruhii distribusi, migrasi dan
kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan dengan cakupan daerah
yang luas. Pemanfaatan SIG dalam perikanan tangkap dapat mempermudah dalam
operasi penangkapan ikan dan penghematan waktu dalam pencarian fishing
ground yang sesuai (Dahuri, 2001). Dengan menggunakan SIG gejala perubahan
lingkungan berdasarkan ruang dan waktu dapat disajikan, tentunya dengan
dukungan berbagai informasi data, baik survei langsung maupun dengan pengidraan
jarak jauh (Fausan, 2013).
Gambar 2. Peta distribusi ikan cakalang di Teluk Bone
Tahap analisis sistem informasi terdiri dari tiga bagian, yaitu
analisis kebutuhan informasi, formulasi masalah, dan identifikasi sistem
informasi. Pada tahap analisis kebutuhan informasi dicari secara selektif
kebutuhan informasi masing-masing pelaku dalam sistem sumberdaya dan lingkungan
perikanan tangkap di Kabupaten Padang Pariaman. Pelaku yang terlibat di
antaranya adalah nelayan, armada penangkapan ikan, pengusaha perikanan, PPI, Dinas
Kelautan dan Perikanan dan pengguna informasi lainnya. Tahap
formulasi permasalahan bertujuan merumuskan permasalahan yang ada dalam proses
dan manajemen pendataan sumberdaya dan lingkungan perikanan tangkap di
Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Permasalahan yang terjadi dapat
diketahui melalui observasi lapang serta wawancara dengan pelaku yang ada dalam
lingkup sistem (Handoyo, 2011).
Untuk pemanfaatan Sistem Informasi Geografis dalamm pengolahan
data, maka dilakukan tahapan sebagai berikut:
1. Penetapan tujuan
2. Penyusunan kriteria
3. Penyusunan basis data
4. Analisis spasial (Nuraeni, 2000).
2.3.1 SIG Ikan
Cakalang Di Pelabuhan Ratu
Daerah penangkapan ikan (DPI) cakalang yang
potensial di perairan Palabuhanratu pada periode Agustus-Oktober 2007 dapat dilihat
pada Gambar 3. Pada bulan Agustus hanya terdapat 6 DPI potensial, karena ikan
mungkin bermigrasi ke tempat yang lebih tenang ketika terjadi angin kencang
yang berhembus dari arah tenggara. Daerah penangkapan potensial terbanyak
terdapat pada bulan September yaitu sebanyak 13 DPI. Hal ini sesuai dengan
munculnya musim puncak ikan cakalang di perairan Palabuhanratu pada bulan
September.
Gambar 3. Peta penangkapan ikan
cakalang di Pelabuhan Ratu (Simbolon, 2009)
2.3.1 SIG Ikan
Cakalang Di Teluk Tomini
Pada proses pembuatan peta Zona Penangkapan
Potensial Ikan Cakalang di perairan Teluk Tomini terdapat beberapa tahapan
kegiatan yaitu: Memasukkan peta digital Pulau Sulawesi untuk mendapatkan
gambaran lokasi penelitian, melakukan suatu topologi yakni penyusunan
atau pemasukkan semua data atribut/database CSV/txt dalam bentuk file Database
(*dbf), melakukan interpolasi terhadap hasil tangkapan lapangan dan hasil
tangkapan prediksi, kemudian menampilkan peta hasil analisis dengan menggunakan
perangkat lunak ArcView GIS 3.3 dan melayoutnya.
Gambar 4. Peta Prediksi Daerah
potensial penangkapan Ikan Cakalang
(Fausan, 2011)
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang diperoleh dalam
penulisan makalah ini, yaitu:
- Kegiatan penangkapan ikan akan menjadi lebih efisien dan efektif apabila daerah penangkapan ikan dapat diduga terlebih dahulu, sebelum armada penangkapan ikan berangkat dari pangkalan karena itulah diperlukan sistem informasi geografis dalam perikanan dan kelautan.
- Pemerintah dan pemerintah daerah menyusun dan mengembangkan sistem informasi dan data statistik perikanan.
- Data spasial adalah data yang mendeskripsikan lokasi dan bentuk tampilan geografis serta hubungan spasial antar tampilan.
- Sistem Informasi Geografis (SIG) yang merupakan suatu sistem berbasis komputer dapat digunakan sebagai alat dalam kegiatan eksplorasi daerah potensial penangkapan ikan secara geografis.
- Daerah penangkapan ikan (DPI) cakalang yang potensial di perairan Palabuhanratu ada pada periode Agustus-Oktober 2007.
- Pada proses pembuatan peta Zona Penangkapan Potensial Ikan Cakalang di perairan Teluk Tomini, hasil akhir ditunjukkan dengan penggunakan Arcview 3.3.
3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya sistem informasi geografis,
sistem penangkapan ikan cakalang di Indonesia juga semakin meningkat dan dengan
adanya aplikasi hubungan perikanan dengan SIG maka nelayan Indonesia akan
semakin sejahtera.
Fausan. 2011. Pemetaan Daerah
Potensial Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Berbasis Sistem
Informasi Geografis Di Perairan Teluk
Tomini Provinsi Gorontalo. http://repository.unhas.ac.id [5 April 2013].
Handoyo, K. 2011. Sistem
Informasi Pengelolaan Sumbedaya Dan Lingkungan Perikanan
Tangkap Di Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat. http://repository.ipn.ac.id [5 April,
2013].
Limbong, M. 2008. Pengaruh
Suhu Permukaan Laut Terhadap Tangkapan Ikan Cakalang. http://repository.ipb.ac.id [7 April 2013].
[7 April 2013].
Nuraeni, R. 2000. Studi
Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Untuk Penentuan Lokasi Wisata Tour Penangkapan Ikan Di Perairan Teluk Pelabuhan Ratu. http://repository.ipb.ac.id
[7 April 2013].
Simbolon, D.2009. Eksplorasi Daerah Penangkapan Ikan Cakalang
Melalui Analisis Suhu Permukaan
Laut dan Hasil Tangkapan di Perairan Teluk Pelabuhan
Ratu. http://repository.ipb.ac.id [7 April 2013].
Yuniar.,
F. Febri., Listyo., dan I Made. 2008. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Berbasis Interne untuk Meningkatkan
Pemahaman Geospasial Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia. http://eprints.undip.ac.id
[5 April 2013].
Zainuddin, M. 2006. Aplikasi SIG dalam Penelitian Perikanan
Dan Kelautan http://regional.coremap.or.id [5 April 2013].



.jpg)
